Jumat, 14 September 2012

askep ikterus (jaundice)

http://askep-ikterus.2012.ranie
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Setiap ibu yang telah melahirkan menginginkan anaknya lahir dalam keadaan sehat dan tidak ada kelainan-kelainan pada bayi tersebut. Tetapi keinginan tersebut tidak akan diperoleh oleh setiap ibu. Karena sebagian kecil ada yang lahir dalam keadaan abnormal. Misalnya anak lahir dengan BBLR, ikterus, hidrosefalus, dan kelainan-kelainan lainnya. Hal ini di sebabkan oleh banyak factor pencetusnya. Seperti kurang teraturnya antenatal care ibu saat hamil, asupan gizi yang kurang baik pada ibu maupun pada janin yang di kandung, atau penyakit yang diturunkan oleh ibu sendiri.
Kemudian kurangnya pengetahuan ibu untuk mengenali tanda-tanda kelainan yang mungkin timbul pada bayi baru lahir. Seperti bayi dengan ikterus, dimana kebanyakan ibu membawa bayinya ke Rumah Sakit dalam derajat yang tinggi. Sebagaimana kita ketahui bahwa ikterik itu terjadinya dimulai dari wajah. Di sini jelas bahwa kurangnya pengetahuan ibu atau orang tua tentang ikterus tersebut, kemudian kurangnya memperoleh pelayanan kesehatan dari tenaga kesehatan. Untuk itulah penulis mengangkat makalah ini dengan judul Ikterus pada Bayi.

1.2         Rumusan Masalah
1.2.1        Apa Pengertian dari Ikterus?
1.2.2        Apa saja Klasifikasi dari Ikerus?
1.2.3        Apa Etiologi dari ikterus?
1.2.4        Bagaimana Patofisiologi dari ikterus?
1.2.5        Apa Tanda dan Gejala dari ikteus?
1.2.6        Apa saja Pemeriksaan Penunjang dari ikterus?
1.2.7        Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien dengan ikterus?
 
1.3         Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan ikterus

1.4         Manfaat
1.4.1    Bagi Mahasiswa
Agar mampu memahami dan menerapkan bagaimana cara penanganan pasien dengan ikterus.
1.4.2    Bagi Institusi
Agar dapat memberikan penjelasan yang lebih luas tentang ikterus,serta dapat lebih banyak menyediakan referensi-referensi buku tentang penyakit-penyakit serta asuhan keperawatan penyakit tersebut.
1.4.3    Bagi Masyarakat
Agar lebih mengerti, memahami dan mengetahui tanda gejala sejak dini tentang penyakit ikterus.















BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Definisi
ë      Ikterus adalah disklorasi kulit, mukosa membran dan sclera oleh karena peningkatan kadar bilirubin dalam serum ( > 2 mg/dL). (Perinatologi)
ë   Ikterus adalah menguningnya sclera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubun dalam tubuh. ( Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 2 )
ë      Ikterus adalah pewarnaan kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa yang terjadi karena meningkatnya kadar bilirubin dalam darah.

2.2     Klasifikasi
1.    Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987):
•      Timbul pada hari kedua-ketiga
•      Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
•      Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari
•      Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
•      Ikterus hilang pada 10 hari pertama
•      Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu
2.    Ikterus Patologis/ Hiperbilirubinemia
Ø  Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam
Ø  Setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi
Ø  Peningkatan kadar bilirubin total serum . 0,5 mg/dL/jam.
Ø  Adanya tanda – tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi (muntah, letargis, malas menetek, penurunan berat badan yang cepat, apnea, takipnea atau suhu yang tidak stabil)
Ø   Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi kurang bulan.
3.    Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.

2.3     Etiologi
Hiperbilirubinemia bisa disebabkan proses fisiologis atau patologis atau kombinasi keduanya. Bayi yang diberikan ASI memiliki kadar bilirubin serum yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang diberikan susu formula. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh beberapa factor, antara lain : frekuensi menyusui yang tidak adekuat, kehilangan berat badan atau dehidrasi.
a.         Ikterus Prahepatik
Karena produksi bilirubin yang meningkat yang terjadi pada hemolisis sel darah merah. Peningkatan pembentukan bilirubin dapat disebabkan oleh:
ë       Kelainan sel darah merah
ë       Infeksi seperti malaria, sepsis.
ë       Toksin yang berasal dari luar tubuh seperti: obat – obatan, maupun yang berasal dari dalam tubuh seperti yang terjadi pada reksi transfuse dan eritroblastosis fetalis.
b.        Ikterus Pascahepatik
Bendungan pada saluran empedu akan menyebabkan peninggian bilirubin konjugasi yang larut dalam air. Akibatnya bilirubin akan mengalami regurgitasi kembali kedalam sel hati dan terus memasuki peredaran darah, masuk ke ginjal dan di eksresikan oleh ginjal sehingga ditemukan bilirubin dalam urin. Sebaliknya karena ada bendungan pengeluaran bilirubin kedalam saluran pencernaan berkurang sehingga tinja akan berwarna dempul karena tidak mengandung sterkobilin.
c.        Ikterus Hepatoseluler
Kerusakan sel hati menyebabkan konjugasi bilirubin terganggu sehingga bilirubin direk akan meningkat dan juga menyebabkan bendungan di dalam hati sehingga bilirubin darah akan mengadakan regurgitasi ke dalam sel hati yang kemudian menyebabkan peninggian kadar bilirubin konjugasi di dalam aliran darah. Kerusakan sel hati terjadi pada keadaan: hepatitis, sirosis hepatic, tumor, bahan kimia, dll.

2.4     Patofisiolgi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Keadaan yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia.
Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan ada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada syaraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl.
Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin indirek akan mudak melewati darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah, hipoksia, dan hipolikemia.

2.5     Tanda dan Gejala
w  Kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga (pada bayi dengan bilirubin indirek).
w  Pasien tampak lemah
w  Nafsu makan berkurang
w  Petekie (bintik merah di kulit)
w  Perbesaran lien dan hepar
w  Feses seperti dempul
w  Dehidrasi
w  Diare

2.6     Pemeriksaan Penunjang
Bila tersedia fasilitas, maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut :
•      Pemeriksaan golongan darah ibu pada saat kehamilan dan bayi pada saat kelahiran
•      Bila ibu mempunyai golongan darah O dianjurkan untuk menyimpan darah tali pusat pada setiap persalinan untuk pemeriksaan lanjutan yang dibutuhkan
•      Kadar bilirubin serum total diperlukan bila ditemukan ikterus pada 24 jam pertama kelahiran

2.7     Penatalaksanaan
1.    Tindakan umum
a.     Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamilü
b.    Mencegah truma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikhterus, infeksi dan dehidrasi.
c.     Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.
d.    Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat.ü
2.    Tindakan khusus
a.     Fototerapi
Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto.
b.     Pemberian fenobarbital
Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic dan pernafasan baik pada ibu dan bayi.
c.     Memberi substrat yang kurang untuk transportasi/ konjugasi
Misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan transfuse tukar.
d.    Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi
Untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubin jinak hingga moderat.
e.     Terapi transfuse
Digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi. Terapi obat-obatan. Misalnya obat phenorbarbital/ luminal untuk meningkatkan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari.
f.     Menyusui bayi dengan ASI
g.     Terapi sinar matahari





2.7     Pathway
Ikterus Pascahepatik (bendungan  saluran empedu)
Ikterus Hepatoseluler
Ikterus Prahepatik
         
Bendungan di  dalam hati
Bilirubin darah mengadakan regurgitasi ke dlm sel hati
Peninggian bilirubin konjugasi direk
Bilirubin direk (larut dalam air) meningkat
Hemoglobin
Konjungkasi bilirubin terganggu
Kerusakan hati
Hemolisis meningkat
Bilirubin tidak terkonjugasi  meningkat
Masuk ke peredaran darah, masuk ke ginjal
Suplai bilirubin melebihi kemampuan hepar
Bilirubin mengalami regurgitasi ke dalam sel hati
Peninggian kadar bilirubin konjugasi di dlm aliran darah
Hiperbilirubinemia
Hepar tidak mampu melakukan konjugasi
Ikterus pada leher, badan
MK: Kerusakan integritas kulit
MK: Kekurangan volume cairan
MK: Hipertermia
Sinar dengan intensitas tinggi
Indikasi fototerapi
Anorexia
MK: Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan






























BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1         Pengkajian
1.        Anemnese
Nama                             :                       Nama Orang Tua         :
Alamat                           :                       Alamat                                    :
Umur                              :                       Umur                           :
Jenis Kelamin                 :                       Jenis Kelamin              :
Tanggal MRS                 :                       Pendidikan                  :
Tanggal Pengkajian        :                       Pekerjaan                     :
No.MRS                                    :                       Status Perkawinan      :
Penanggung Jawab        :
Dx Medis                       :
2.    Riwayat Keperawatan
a.     Riwayat Kehamilan
Kurangnya antenatal care yang baik. Penggunaan obat – obat yang
meningkatkan ikterus ex: salisilat sulkaturosic oxitosin yang dapat
mempercepat proses konjungasi sebelum ibu partus.
b.     Riwayat Persalinan
Persalinan dilakukan oleh dukun, bidan atau Data Obyektifkter. Lahir prematur / kurang bulan, riwayat trauma persalinan, hipoxin dan aspixin
c.     Riwayat Post natal
Adanya kelainan darah tapi kadar bilirubin meningkat kulit bayi tampak kuning.
d.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Seperti ketidak cocokan darah ibu dan anak Polycythenia, gangguan saluran cerna dan hati ( hepatitis )
e.     Riwayat Pikososial
Kurangnya kasih saying karena perpisahan, perubahan peran orang tua
f.     Pengetahuan Keluarga
Penyebab perawatan pengobatan dan pemahaman ortu bayi yang ikterus
3.    Kebutuhan Sehari – hari
a.     Nutrisi
Pada umumnya bayi malas minum (reflek menghisap dan menelan lemah) sehingga BB bayi mengalami penurunan.
b.    Eliminasi
Biasanya bayi mengalami diare, urin mengalami perubahan warna gelap dan tinja berwarna pucat
c.     Istirahat
Bayi tampak cengeng dan mudah terbangun
d.    Aktifitas
Bayi biasanya mengalami penurunan aktivitas, letargi, hipototonus dan mudah terusik.
e.     Personal hygiene
Kebutuhan personal hygiene bayi oleh keluarga terutama ibu
4.    Pemeriksaan fisik
Keadaan umum lemah, Ttv tidak stabil terutama suhu tubuh (hipo/ hipertemi). Reflek hisap pada bayi menurun, BB turun, pemeriksaan tonus otot (kejang/ tremor). Hidrasi bayi mengalami penurunan. Kulit tampak kuning dan mengelupas (skin resh) bronze bayi syndrome, sclera mata kuning (kadang–kadang terjadi kerusakan pada retina) perubahan warna urine dan feses.

3.2         Diagnosa Keperawatan
1.        Kurangnya volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, dan diare.
2.        Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan efek fototerapi
3.        kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare
4.        Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan reflek hisap menurun

3.3         Intervensi
No.
Diagnosa
Keperawatan
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1.
Kurangnya volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, dan diare.

Tujuan:
Cairan tubuh adekuat

Kriteria Hasil:
Ttv normal
Turgor kulit <2detik
1.      Catat jumlah dan kualitas feses
2.      Pantau turgor kulit
3.      Pantau intake output
4.      Beri air diantara menyusui atau memberi botol
1.    Untuk memantau
2.    Memantau tanda adanya dehidrasi
3.    Memantau intake output
4.    Menambah intake cairan
2.
Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan efek fototerapi

Tujuan:
Kestabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankan

Kriteria Hasil:
Ttv normal
Akral hangat
1.      Beri suhu lingkungan yang netral
2.      Pertahankan suhu antara 35,5° - 37°C
3.      Cek tanda-tanda vital tiap 2 jam
1.        Menjaga kestabilan suhu tubuh
2.        Mempertahankan  suhu normal
3.        Memantau terjadinya penurunan/peningkatan suhu tubuh
3.
Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan reflek hisap menurun
Tujuan:
Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Kriteria Hasil:
BB normal
Intake adekuat

1.      Berikan minum melalui sonde (ASI/ PASI)
2.      Lakukan oral hygiene dan olesi mulut dengan kapas basah
3.      Monitor intake dan output BB
4.      Observasi tugor dan membran mukosa
1.        Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
2.        Meningkatkan nafsu makan
3.        Memantau intake serta output
4.        memantau
4.
kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare

Tujuan:
Keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan

Kriteria Hasil:
Warna kulit normal
Kulit bersih dan lembab
1.      Kaji warna kulit tiap 8 jam
2.      Pantau bilirubin direk dan indirek
3.      Rubah posisi setiap 2 jam
4.      Masase daerah yang menonjol
5.      Jaga kebersihan kulit dan
kelembabannya
1.        Memantau terjadinya perubahan warna kulit
2.        Memantau kadar bilirubin
3.        Mencegah terjadinya penekanan pada kulit
4.        Meningkatkan sirkulasi darah














BAB 4
PENUTUP
4.1         Kesimpulan
1.        Ikterus adalah disklorasi kulit, mukosa membran dan sclera oleh karena peningkatan kadar bilirubin dalam serum ( > 2 mg/dL ). (Perinatologi)
2.        Ikterus Fisiologis umumnya terjadi pada bayi baru lahir, kadar bilirubin tak terkonjugasi pada minggu pertama > 2mg/dL.
3.        Ikterus Patologis
ë   Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam
ë   Setiap peningkatan kadar bilirubin serum yang memerlukan fototerapi
ë   Peningkatan kadar bilirubin total serum . 0,5 mg/dL/jam.
ë   Adanya tanda – tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi (muntah, letargis, malas menetek, penurunan berat badan yang cepat, apnea, takipnea atau suhu yang tidak stabil)
ë   Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi kurang bulan.
4.        Hiperbilirubinemia bisa disebabkan proses fisiologis atau patologis atau kombinasi keduanya. Bayi yang diberikan ASI memiliki kadar bilirubin serum yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang diberikan susu formula. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh beberapa factor, antara lain : frekuensi menyusui yang tidak adekuat, kehilangan berat badan atau dehidrasi
5.        Penatalaksanaannya yaitu dengan strategi pencegahan, penggunaan farmakoterapi, dan fototerapi serta transfuse tukar.

4.2         Saran
Bagi pembaca di sarankan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan Ikterus pada bayi, Sehingga dapat di lakukan upaya-upaya yang bermanfaat untuk menanganinya secara efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, J. (1985). Materity and Gynecologic Care. Precenton.

Cloherty, P. John (1981). Manual of Neonatal Care. USA.
Harper. (1994). Biokimia. EGC, Jakarta.
Hasan, Rusepno. 1997. “Ilmu Kesehatan Anak 2 “. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI.
Santosa,Budi . 2005 - 2006. Diagnosa Keperawatan NANDA . Jakarta : Prima Medika.
 Sudoyo,Aru.W, dkk, eds., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Dep. Ilmu Penyakit Dalam : Jakarta, 2006, vol. I, hlm. 422-425
 Sakit Kuning (Jaundice), http://info-sehat.com/content.php?s_sid=1064, acces : 05 November 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

animasi  bergerak gif
My Widget